Wednesday, February 15, 2012

pengolahan limbah menjadi pupuk cair

I.       PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang.
            Sejalan dengan sejarah perkembangan peradaban manusia, eksploitasi dan upaya pemanfaatan sumber daya alam merupakan proses yang tidak terhindarkan. Salah satu yang menyebabkan eksploitasi tanah melalui peningkatan produktivitas pertanian adalah meningkatnya jumlah penduduk dan kebutuhan pangan dari masyarakat. Cara pengeksploitasian petani guna meningkatkan produksivitas pertaniannya adalah dengan memberikan input yang besar berupa pupuk dan pestisida yang berbahan sintetis. Pemberian input yang berlebih pada tanah maupun tanaman dapat merusak kondisi tanah dan dapat juga mengakibatkan menurunnya kesehatan masyarakat. Kesadaran masyarakat akan kesehatan dan terjaganya lingkunga menciptakan suatu system pertanian berkelanjutan. Secara keseluruhan permasalahan tersebut telah membawa dampak bagi kehidupan umat manusia di bumi. Dampak ini dapat berakibat terhadap kesehatan manusia, kondisi ekonomi dan kehidupan sosial, serta berpengaruh terhadap tatanan perilaku budaya masyarakat. Sejalan dengan akibat masalah lingkungan yang dirasakan manusia, telah pula membawa kesadaran baru bagi umat manusia untuk lebih memperhatikan masalah lingkungan dan serta harus melakukan upaya-upaya untuk memperbaiki keadaan lingkungannya.
                  Ketersediaan makanan tumbuhan dipengaruhi oleh kesuburan tanah. Kesuburan tanah merupakan kemampuan tanah menyediakan hara dalam jumlah cukup untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangbiakan. Definisi ini seringkali dipahami terlalu sempit dengan hanya mempertimbangkan sifat kimia/kesuburan tanah yang hanya menyangkut jumlah dan ketersediaan unsur hara yang dikandung tanah. Konsep kesuburan tanah sebenarnya jauh lebih luas. Aspek keseuburan adalah sifat fisik tanah, kerapatan lindak tanah, kedalam perakaran, struktur dan porositas tanah/kerenggangan tanah/kemampuan meresapkan air.  Untuk mendapatkan kesuburan tanah diperlukan penambahan bahan-bahan yang mengandung unsur hara. Unsur hara organik dapat diperoleh dari sisa hasil panen, bahan yang berasal dari luar usaha, bisa juga berasal dari tanaman kacang-kacangan, dll. Salah satu langkah untuk mengmbalikan kesuburan tanah Usaha pertanian organik seringkali dilakukan dengan mengembalikan sisa hasil  panen ke sawah, namun daur limbah pertanaman ini tidak cukup untuk menggantikan keseluruhan unsur hara yang hilang. Perbaikan kesuburan tanah dapat diusahakan dengan membuat pupuk organik sendiri.
      Pupuk kandang dapat pula digunakan dalam bentuk cair. Pupuk kandang cair dapat dibuat dengan mencampur kotoran hewan dengan air lalu  diaduk. Setelah larutan tercampur rata simpanlah di tempat yang teduh dan tidak terkena sinar matahari langsung dengan memberi penutup/pelindung. Biarkan agar terjadi proses fermentasi seblum digunakan. Penyimpanan pupuk kandang cair dilakukan dalam kondisi tertutup agar udara tidak dapat masuk. Hal ini dilakukan untuk menekan kehilangan nitrogen dalam bentuk gas amoniak yang menguap. Dengan menyimpannya terlebih dahulu sebelum digunakan akan meningkatkan kandungan fosfat dan membuat kandungan hara menjadi seimbang. Penggunaan pupuk kandang cair juga akan meningkatkan efisiensi penggunaan fosfat oleh tanaman. Dalam penggunaan pupuk kandang perlu diwaspadai dalam pengggunaan langsung dalam tanaman adalah kemungkinan adanya kandungan gulma, organisme penyebab penyakit yang terkandung dalam pupuk kandang/kotoran hewan. Penggunaan secara langsung kemungkinan besar akan terjadi panas karena proses penguraian.
1.2  Tujuan
1.        Untuk mengetahui cara pembuatan pupuk cair Organik yang berasal dari limbah Pertanian
2.        Belajar untuk mengelolah limbah Pertanian agar dapat di manfaatkan sebelum menjadi sampah.




II.    TINJAUAN PUSTAKA

            Pertanian merupakan sumber pangan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Hingga kinipun julukan itu masih melekat erat di sebagian besar penduduk kita terutama yang tinggal di pedesaan. Berbagai model bercocok tanam terdapat di tanah air kita, mulai dari bertanam padi, palawija, tanaman hutan dengan berbagai variasinya yang tergantung dari kondisi setiap wilayah. Sebagai negara agraris, berbagai aneka produk pertanian sangat mudah dijumpai, mulai dari buah-buahan, sayur-sayuran, padi, jagung, ketela, kayu hewan ternak seperti sapi, kerbau, ayam, kuda. Bahkan akhir-akhir ini di beberapa tempat sector pertanian telah berkembang dari tradisonal ke industri, sebagai contohnya adalah industri peternakan ayam. Namun demikian penggunaan tanah secara terus menerus untuk bercocok tanam telah menciptakan kemunduran tanah yang ditandai oleh maraknya erosi dan tanah longsor serta kebutuhan pupuk baik organik maupun buatan dengan jumlah yang cukup besar. Peledakan penduduk dan kemisikinan diantaranya juga ikut menjadi pendorong makin rusaknya lingkungan pertanian. Upaya untuk mengembalikan kesuburan tanah yang berkelanjutan dengan menggunakan agen pupuk organik rupanya sedang digemari akhirakhir ini. Limbah organik pertanian merupakan sumber pupuk organik yang penting bagi petani kita (Indrakusuma, 2000).
                Pupuk organik cair merupakan salah satu jenis pupuk yang banyak beredar di pasaran. Pupuk organik cair kebanyakan diaplikasikan melalui daun atau disebut sebagai pupuk cair foliar yang mengandung hara makro dan mikro esensial (N, P, K, S, Ca, Mg, B, Mo, Cu, Fe, Mn, dan bahan organik). Pupuk organik cair mempunyai beberapa manfaat diantaranya dapat mendorong dan meningkatkan pembentukan klorofil daun dan pembentukan bintil akar pada tanaman leguminosae sehingga meningkatkan kemampuan fotosintesis tanaman dan penyerapan nitrogen dari udara, dapat meningkatkan vigor tanaman sehingga tanaman menjadi kokoh dan kuat, meningkatkan daya tahan tanaman terhadap kekeringan, cekaman cuaca dan serangan patogen penyebab penyakit, merangsang pertumbuhan cabang produksi, serta meningkatkan pembentukan bunga dan bakal buah, serta mengurangi gugurnya daun, bunga dan bakal buah. Pemberian pupuk organik cair harus memperhatikan konsentrasi atau dosis yang diaplikasikan terhadap tanaman. Dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik cair melalui daun memberikan pertumbuhan dan hasil tanaman yang lebih baik daripada pemberian melalui tanah. Semakin tinggi dosis pupuk yang diberikan maka kandungan unsur hara yang diterima oleh tanaman akan semakin tinggi, begitu pula dengan semakin seringnya frekuensi aplikasi pupuk daun yang dilakukan pada tanaman, maka kandungan unsur hara juga semakin tinggi. Namun, pemberian dengan dosis yang berlebihan justru akan mengakibatkan timbulnya gejala kelayuan pada tanaman. Oleh karena itu, pemilihan dosis yang tepat perlu diketahui oleh para peneliti dan hal ini dapat diperoleh melalui pengujian-pengujian di lapangan. Diduga sampai batas tertentu kombinasi antara dosis yang diberikan dengan frekuensi aplikasi pupuk daun yang dilakukan merupakan faktor yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman buncis (Rao, 1994 & Poerwowidodo (1992 ).
      Banyaknya kandungan unsur hara yang ada di dalam lahan pertanian yang ada di lahan saudara dapat dilihat secara sederhana dari  penampakan warna tanaman di lahan saudara. Misalnya ada tanaman yang kelihatan hijau sementara yang lainnya terlihat kekuningan. Tanaman hijau menggambarkan bahwa tanah tersebut mempunyai cukup unsur hara. Sedangkan tanaman yang berwarna kuning biasanya menunjukkan bahwa tanah tersebut tidak cukup mempunyai unsur hara.
Untuk memudahkan unsur hara dapat diserap tanah dan tanaman bahan organik dapat dibuat menjadi pupuk cair terlebih dahulu. Pupuk cair menyediakan nitrogen dan unsur mineral lainnya yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman, seperti halnya pupuk nitrogen kimia. Kehidupan binatang di dalam tanah juga terpacu dengan penggunaan pupuk cair. Pupuk cair tersebut dapat dibuat dari kotoran hewan yang masih baru. Kotoran hewan yang dapat digunakan misalnya kotoran kambing, domba, kelinci atau ternak lainnya (Prihmantoro, 1996).
      Pembuatan pupuk cair dapat dilakukan dengan cara menempatkan kotoran ternak ke dalam goni. Kumpulkan 30-50 kg kotoran ternak yang masih segar. Masukkan dalam karung goni dan ikatlah karung tersebut. Masukkan karung yang berisi kotoran ke dalam drum yang berisi air 200 liter air. Dengan mengangkat ke atas dan kebawah dalam drum maka kotoran ternak tersebut akan muda larut. Lakukan setiap 3 hari. Dibutuhkan waktu kira-kira 2 minggu untuk melarutkan semua unsur hara dalam pupuk ke dalam air. Larutan siap bila warna ini berubah menjadi coklat tua. Cara lain, untuk memperkirakan kapan larutan telah siap/jadi adalah melalui penciuman. Hari pertama akan terasa bau amoniak yang kuat. Setelah 10-14 hari, bau tersebut menjadi berkurang. Larutan tersebut merupakan pupuk cair yang bagus untuk memupuk pertumbuhan tanaman. Pupuk ini dapat digunakan untuk berbagai macam tanaman. Untuk mendapatkan hasil yang bagus lebih baik pupuk cair tersebut diencerkan terlebih dahulu sebelum digunakan. Untuk satu bagian larutan, tambahkan 1 atau 2 bagian air. Larutan tersebut digunakan untuk menyiram tanaman, di sekeliling tanaman. Beberapa tanaman dapat juga langsung menggunakan pupuk cair tersebut misalnya jagung. Ampas dari sisa pupuk cair ini dapat digunakan sebagai mulsa tanaman atau ditambahkan untuk pembuatan kompos (Anonim, 2004).
            Unsur hara merupakan salah satu factor yang menunjang pertumbuhan dan
perkembangan tanaman kentang yang optimal. Penggunaan pupuk sebagai salah
satu usaha untuk meningkatkan produksi kentang sudah sangat membudaya dan para petani telah menganggap bahwa pupuk dancara pemupukan sebagai salah satu hal yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan usaha taninya. Dampak dari penggunaan pupuk anorganik menghasilkan peningkatan produkstivitas tanaman yang cukup tinggi. Namun penggunaan pupuk anorganik dalam jangka yang relative lama umumnya berakibat buruk pada kondisi tanah. Tanah menjadi cepat mengeras, kurang mampu menyimpan air dan cepat menjadi asam yang pada akhirnya akan menurunkan produktivitas tanaman (Ani, 2004)
.


III.  METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Tempat dan waktu
Tempat pelaksanaan praktikum Mata Kuliah Teknologi Pengelolaan Limbah Pertanian dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 19 November 2011 pukul 11.30 WIB yang bertempat di Labotatorium  Penyakit Jurusan HPT Fakultas Pertanian Universitas Jember.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
1. Pisau
2. Timba kurang lebih 15 liter
3. karung goni
3.2.2 Bahan
1. limbah sayuran secukupnya
2. EM4
3.3  Cara kerja
1.        Masukkan kompos jadi ke dalam komposter hingga setebal 5cm atau mendekati sisi bawah pengauk saat di putar
2.        Cacah daun atau sayuran sepanjang 2-4 cm dengan pisau atau gunting
3.        Masukkan bahan serbuk gergaji ke dalam komposter dengan perbandingan 1:1 kemudian di tambahkan dedak
4.        Larutkan gula dalam air dengan menggunakan timba, selanjutnya masukkan EM4.



IV.      HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1    Hasil
kelompok
bahan
Bau
warna
Tekstur
1
Sawi
Wangi sirup
Coklat
Hancur
2
Tomat
-
-
-
3
Mangga
Wangi (seperti gula)
Coklat kemerahan
Hancur
4
Kubis
Busuk menyengat
Coklat keruh
Sangat hancur
5
Papaya
Wangi sirup
Coklat kemerahan
hancur

4.2    Pembahasan
Pupuk organik cair merupakan salah satu jenis pupuk yang banyak beredar di pasaran. Pupuk organik cair kebanyakan diaplikasikan melalui daun atau disebut sebagai pupuk cair foliar yang mengandung hara makro dan mikro esensial (N, P, K, S, Ca, Mg, B, Mo, Cu, Fe, Mn, dan bahan organik). Pupuk organik cair mempunyai beberapa manfaat diantaranya dapat mendorong dan meningkatkan pembentukan klorofil daun dan pembentukan bintil akar pada tanaman leguminosae sehingga meningkatkan kemampuan fotosintesis tanaman dan penyerapan nitrogen dari udara, dapat meningkatkan vigor tanaman sehingga tanaman menjadi kokoh dan kuat, meningkatkan daya tahan tanaman terhadap kekeringan, cekaman cuaca dan serangan patogen penyebab penyakit, merangsang pertumbuhan cabang produksi, serta meningkatkan pembentukan bunga dan bakal buah, serta mengurangi gugurnya daun, bunga dan bakal buah. Pemberian pupuk organik cair harus memperhatikan konsentrasi atau dosis yang diaplikasikan terhadap tanaman. Dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik cair melalui daun memberikan pertumbuhan dan hasil tanaman yang lebih baik daripada pemberian melalui tanah. Semakin tinggi dosis pupuk yang diberikan maka kandungan unsur hara yang diterima oleh tanaman akan semakin tinggi, begitu pula dengan semakin seringnya frekuensi aplikasi pupuk daun yang dilakukan pada tanaman, maka kandungan unsur hara juga semakin tinggi. Namun, pemberian dengan dosis yang berlebihan justru akan mengakibatkan timbulnya gejala kelayuan pada tanaman.
      Penggunaan pupuk cair lebih memudahkan pekerjaan, dan penggunaan pupuk cair berarti kita melakukan tiga macam proses dalam sekali pekerjaan, yaitu memupuk tanaman, menyiram tanaman dan mengobati tanaman.
Manfaat dari pemberian pupuk cair organik adalah :
  1. Merangsang pertumbuhan tunas baru
  2. Mempebaiki sistem jaringan sel dan memperbaiki sel-sel rusak
  3. Merangsang pertumbuhan sel-sel baru pada tumbuhan
  4. Memperbaiki klorofil pada daun
  5. Merangsang pertumbuhan kuncup bunga
  6. Memperkuat tangkai serbuk sari pada bunga
Memperkuat daya tahan pada tanaman
Bahan organik selain dapat meningkatkan  kandungan  C-organik tanah,  juga  merupakan  sumber hara. Penambahan bahan  organik  merupakan  suatu tindakan  perbaikan  lingkungan  tumbuh  tanaman  yang  dapat  meningkatkan  efisiensi  penggunaan pupuk .  Salah  satu sumber  bahan organik lokal  yang mudah  diperoleh dan  cukup potensial  sebagai sumber bahan organik  tanah  adalah  jerami padi.  Selain  sebagai sumber bahan organik,  jerami  juga  merupakan sumber pupuk kalium,  karena sekitar 80% kalium  yang diserap  tanaman.
Manfaat:
  1. Untuk menyuburkan tanaman
  2. Untuk menjaga stabilitas unsur hara dalam tanah
  3. Untuk mengurangi dampak sampah organik di lingkungan sekitar
Keunggulan:
  1. Mudah, murah
  2. Tidak ada efek samping
Kekurangan:
  1. Perlu ketekunan dan kesabaran yang tinggi.
  2. Hasilnya kurang banyak
Dalam kegiatan pembuatan pupuk cair yang telah dilaksanakan kemarin, bahan yang digunakan tidak boleh busuk hal ini karena didalam bahan yang telah busuk terdapat bakteri yang nantinya pada saat pembuatan pupuk cair, bakteri tersebut akan bersaing dengan bakteri EM4 yang digunakan sebagai agen dekomposer bahan organik. Hal ini akan menyebabkan bakteri EM4 dalam pendengkomposisian bahan tersebut menjadi terhambat dan dapat juga menyebabkan bakteri EM4 menjadi mati karena kalah bersaing dengan bakteri yang ada pada bahan yang busuk. Bahan yang digunakan dalm pembuatan pupuk cair organik harus dipotong kecil-kecil hal ini bertujuan agar bakteri EM 4 lebih mudah dalam memutus rantai carbon dari bahan yang digunakan sehingga dalam proses pendengkomposian lebih memudahkan bakteri EM4.
      Pupuk cair lebih mudah terserap oleh tanamn karena unsur-unsur di dalamnya sudah terurai. Tanaman menyerap hara terutama melalui akar, namun daun juga punya kemampuan menyerap hara. Sehingga ada manfaatnya apabila pupuk cair tidak hanya diberikan di sekitar tanaman, tapi juga di atas daun-daun. Penggunaan pupuk cair lebih memudahkan pekerjaan, dan penggunaan pupuk cair berarti kita melakukan tiga macam proses dalam sekali pekerjaan, yaitu :
-     Memupuk tanaman
-     Menyiram tanaman
-     Mengobati tanaman
Dalam kegiatan pupuk cair organik terdapat beberapa faktor dapat mempengaruhi tingkat keberhasilan dalam pembuatan pupuk organik cair diantaranya adalah:
a.         Aerasi timbunan. Aerasi berhubungan erat dengan kelengasan. Apabila terlalu anaerob mikrobia yang hidup hanya mikrobia anaerob saja, mikrobia aerob mati atau terhambat pertumbuhannya. Sedangkan bila terlalu aerob udara bebas masuk ke dalam timbunan bahan yang dikomposkan umumnya menyebabkan hilangnya nitrogen relatif banyak karena menguap berupa NH3
b.        Bahan yang digunakan jangan bahan yang sudah busuk, karena bahan yang sudah busuk terdapat bakteri yang nantinya bakteri tersebut dapat mengganggu perkembangan dari bakteri EM4 dalam mendekomposisi bahan yang digunakan dalam pembuatan pupuk cair.
c.         Dalam pembuatan pupuk cair, bakteri EM4 harus sudah siap hidup di lingkungan yang berbeda, hal ini penting dalam pembuatan pupuk cair. Bakteri EM 4 sebaiknya dibuat 1 minggu sebelum pembuatan pupuk cair dilakukan.
d.        Pemotongan bahan yang digunakan, potongan bahan yang baik digunakan untuk pembuatan pupuk cair adalah yang potongannya kecil. Hal ini dikarenakan agar bakteri EM4 lebih mudah dalam mendengkomposisi bahan tersebut, karena bakteri EM4 mudah dalam memotong rantai karbon pada bahan tersebut sehingga membentuk rantai carbon yang lebih sederhana.
e.         Kegiatan dan kehidupan mikrobia sangat dipengaruhi oleh kelembaban yang cukup, tidak terlalu kering maupun basah atau tergenang.
f.         Peletakan tempat pembuatan pupuk cair, dalam pembuatan pupuk cair sebaiknya ditempat yang teduh agar bakteri EM4 tidak terkena sinar matahari langsung,apabila bakteri EM4 terkena sinar matahari langsung, maka bakteri tersebut akan mati akibat sinar inframerah dari matahari. Untuk penyimpanan bahan yang telah dibuat sebaiknya diletakkan di tempat yang teduh agar suhu dan temperatur dari pupuk cair yang dibuat dapat sesuai dengan lingkungan yang cocok untuk pertumbuhan bakteri EM4
Dari kegiatan praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan data dari masing-masing kelompok yang telah diambil pada pengamatan terkhir. Pada kelompok 1 yang pupuk cairnya terbuat dari limbah sayur sawi bau dari pupuk cair ini menyerupai bau sirup, warna dari pupuk cair ini adalah berwarna coklat dan tekstur dari pupuk cair yang terbuat dari bahan sawi teksturnya hancur. Pada perlakuan pupuk yang menggunakan bahan tomat, tidak jadi, hal ini dikarenakan pada tomat terkandung banyak air yang nantinya kandungan pada air tomat tersebut akan menghambat laju pertumbuhan dari bakteri EM4 pada saat perombakan. Selain itu tomat yang dibawa pada kelompok 2 dingin, hal ini dkarenakan sebelum digunakan tomat tersebut dimasukkan kedalam freezer, menurut dosen yang membimbing, tomat yang dingin tersebut dapat menyebabkan bakteri EM4 tidak dapat bekerja secara maksimal.  Pada kelompok 3 yang berbahan buah mangga sebagai bahan untuk pembuatan pupuk cair, pada pengamatan terakhir pupuk yang dibuat dari buah mangga ini memiliki bau wangi seperti gula dan warna dari pupuk ini adalah coklat kemerahan. Tekstur dari pupuk cair ini adalah hancur. Sedangkan pada kelompok 4 yang terbuat dari kubis memiliki bau yang sangat busuk dan berwana coklat keruh dan tekstur dari pupuk ini adalah sangat hancur. Sedangkan pada kelompok 5 yang menggunakan bahan dari buah pepaya bau dari pupuk yang telah dibuat adalah wangi sirup dan warnanya coklat kemerahan dan tekstur dari pupuk ini adalah hancur.
Dari kegiatan tersebut semua pupuk baik digunakan untuk tanaman tetapi hal yang membedakan adalah komposisi dalam pemupukan untuk tanaman, apabila kelebihan pupuk tanaman dapat  keracunan bahkan dapat layu dan mati. Jadi dari kegiatan praktikum semua pupuk cair yang dibuat baik, hal ini dikarenakan pada pengamatan terakhir semua data yang diambil hampir sama walau pupuk yang dibuat berbeda.


V.    PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Menurut hasil praktikum Teknologi Pengelolaan Limbah Pertanian tentang pembuatan pupuk cair dapat di simpulkan bahwa :
1.        Pupuk organik cair kebanyakan diaplikasikan melalui daun atau disebut sebagai pupuk cair foliar yang mengandung hara makro dan mikro esensial (N, P, K, S, Ca, Mg, B, Mo, Cu, Fe, Mn, dan bahan organik).
2.        Pupuk organik cair melalui daun memberikan pertumbuhan dan hasil tanaman yang lebih baik daripada pemberian melalui tanah.
3.        Semakin tinggi dosis pupuk yang diberikan maka kandungan unsur hara yang diterima oleh tanaman akan semakin tinggi, begitu pula dengan semakin seringnya frekuensi aplikasi pupuk daun yang dilakukan pada tanaman, maka kandungan unsur hara juga semakin tinggi. Namun, pemberian dengan dosis yang berlebihan justru akan mengakibatkan timbulnya gejala kelayuan pada tanaman.
4.        Apabila terlalu anaerob mikrobia yang hidup hanya mikrobia anaerob saja, mikrobia aerob mati atau terhambat pertumbuhannya. Sedangkan bila terlalu aerob udara bebas masuk ke dalam timbunan bahan yang dikomposkan umumnya menyebabkan hilangnya nitrogen relatif banyak karena menguap berupa NH3
5.        Dari kegiatan tersebut semua pupuk baik digunakan untuk tanaman tetapi hal yang membedakan adalah komposisi dalam pemupukan untuk tanaman, apabila kelebihan pupuk tanaman dapat  keracunan bahkan dapat layu dan mati. Jadi dari kegiatan praktikum semua pupuk cair yang dibuat baik, hal ini dikarenakan pada pengamatan terakhir semua data yang diambil hampir sama walau pupuk yang dibuat berbeda
6.        Bahan yang digunakan jangan bahan yang sudah busuk, karena bahan yang sudah busuk terdapat bakteri yang nantinya bakteri tersebut dapat mengganggu perkembangan dari bakteri EM4 dalam mendekomposisi bahan yang digunakan dalam pembuatan pupuk cair.

5.2    Saran
Sebaiknya dalam kegiatan praktikum sebaiknya praktikan harus membawa bahan sesuai dengan yang telah disyaratkan selain itu sebaiknya praktikan harus lebih memperhatikan apa yang diterangkan oleh asisten, hal ini agar tujuan dari praktikum dapat tercapai


DAFTAR PUSTAKA

Ani, 2004. Penggunaan Pupuk Cair Pada Tanama Holtikultur. Tigaserangkai. Jakarta

Anonim. 2004. Buncis (Phaseolus vulgaris L.). http://warintek. progressio. or. id/pertanian/ buncis.htm. Diakses tanggal 18 Januari 2006.

Indrakusuma. 2000. Proposal Pupuk Organik Cair Supra Alam Lestari. PT Surya Pratama Alam. Yogyakarta

Poewowidodo, 1992. Telaah Kesuburan Tanah. Penerbit Angkasa. Bandung

Prihmantoro, H. 1996. Memupuk Tanaman Buah. Cetakan I. Penebar Swadaya. Jakarta

Rao, S. 1994. Mikroorganisme dan Pertumbuhan Tanaman. Univ. Indonesia Jakarta

No comments:

Post a Comment