Friday, April 13, 2012

devisiensi dan kelebihan unsure hara mikro


I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
            Terung ialah tumbuhan pangan yang ditanam untuk buahnya. Asal-usul budidayanya berada di bagian selatan dan timur Asia sejak zaman prasejarah, tetapi baru dikenal di dunia Barat tidak lebih awal dari sekitar tahun 1500. Buahnya mempunyai berbagai warna, terutama ungu, hijau, dan putih. Catatan tertulis yang pertama tentang terung dijumpai dalam Qí mín yào shù, sebuah karya pertanian Tiongkok kuno yang ditulis pada tahun 544. Banyaknya nama bahasa Arab dan Afrika Utara untuk terong serta kurangnya nama Yunani dan Romawi menunjukkan bahwa pohon ini dibawa masuk ke dunia Barat melewati kawasan Laut Tengah oleh bangsa Arab pada awal Abad Pertengahan. Nama ilmiahnya, Solanum melongena, berasal dari istilah Arab abad ke-16 untuk sejenis tanaman terung.
`           Karena terung merupakan anggota Solanaceae, buah terung pernah dianggap beracun, sebagaimana buah beberapa varietas leunca dan kentang. Sementara buah terung dapat dimakan tanpa dampak buruk apa pun bagi kebanyakan orang, sebagian orang yang lain, memakan buah terung (serupa dengan memakan buah terkait seperti tomat, kentang, dan merica hijau atau lada) bisa berpengaruh pada kesehatan. Sebagian buah terung agak pahit dan mengiritasi perut serta mengakibatkan gastritis. Karena itulah, sebagian sumber, khususnya dari kalangan kesehatan alami, mengatakan bahwa terung dan genus terkait dapat mengakibatkan atau memperburuk artritis dengan kentara dan justru itu, harus dijauhi oleh mereka yang peka terhadapnya.
            Unsure hara esensial yang dibutuhkan tanaman terdiri dari unsure makro (N,P,K,Ca,Mg dan S) dan unsure mikro (Zn,Cu,Mn,Mo,B,dan Cl). Unsure logam pb, Cd juga terkandung dalam jaringan tanaman yang diseut hara non-esensial, sebab sebelum diketahui fungsi unsure tersebut dalkam tanaman. Secara umum semua unsure hara bersumber dari bebatuan induk tanan/mineral-mineral, kecuali unsure N yang berasl dari bahan Organik. Mineral dalam bebatuan terlarut, unsure hara terbebas dan tersedia bagi tanaman.

1.2 Tujuan
            Untuk mengetahui gejala devisiensi dan kelebihan unsure hara tetentu pada tanaman.
           


II.TINJAUAN PUSTAKA
                  Terung diduga berasal dari benua asia, terutama india dan birma. Kapan tanaman ini mulai dibudidayakan oleh manusai belum diketemukan keterangan atau data uyang pasti. Eberapa petunjuk menyatakan bahwa tanaman terung banyak tumbuh dicina. Didaerah ini dikemudian dibawa kespanyol, dan disebarluaskan ke Negara-negara lain di eropa, Afrika, Amerika Selatan, Malaysia dan Indonesia
                 Terung atu teong (jawa), torung (batak), cuang, taung (bali) atau nasubi (jepang) termasuk salah satu sayuran buah yang banyak digemari berbagai kalangan seluruh pelosok tanah air. Buah terung merupakan hasil panen utama tanaman ini memiliki cita rasa yang enak, bernilai gizi diantaranya A, B1, C,P dan Fosfor (Trubus, 1998). Selain itu memiliki harga yang relative murah (rp 3000 –Rp 3500/kg terung ungu) sehingga dapat terjangkau oleh masyarakat lapisan bawah. Jadi tidak menghernkan jika bebagai masakan rumah tangga Indonesia bahkan rumah makan besar menggunakn terung sebagai salah sau menunya.
            Lignina dalah penyusun jaringan tumbuhan selain selulosa dan hemiselulosa. Senyawa ini merupakan polimeraromatik dari phenilpropanoid, basilsintesaconiferyl, synapyl, p-coumaylalkohol (GolddanAlic,1993). Fungsi dari lignin untuk member kekakuan pada jaringan pengangkut tumbuhan dan melindungi struktur yang tersusun dari polisakarida (selulosadanhemiselulosa) dari serangan organisme lain sehingga lignin bersif atrekalsitran (Hammel,1997). Jamur whiterot menguraikan lignin melalui prose soksida si menggunaka nenzimphenoloksidas (Sanchez,2009) menjadi senyawa yang lebih sederhana sehingga dapat diserapoleh mikroorganisme, Selulosa dan hemiselulosa juga merupakan penyusun jaringan tumbuhan yang tersusun dari gula yang berbeda. Selulosa adalah polimer linear yang tersusun dari D-glukosa yang diikat olehb-I ,4glycosida membentuk celobiosa(Sanchez,2009).

            Pemupukan berimbang adalah pengelolaan hara spesifik lokasi, bergantung pada lingkungan setempat, terutama tanah. Konsep pengelolaan hara spesifik lokasi mempertimbangkan kemampuan tanah menyediakan hara secara alami dan pemulihan hara yang sebelumnya dimanfaatkan untuk padi sawah irigasi (Dobermann and Fairhurst 2000, Witt and Dobermann 2002). Konsep serupa juga digunakan untuk rekomendasi pemupukan yang baru pada tanaman jagung di Nebraska (Amerika Serikat), dengan penekanan khusus pada pemahaman potensi hasil dan senjang hasil sebagai dasar perbaikan rekomendasi pengelolaan hara yang bersifat spesifik lokasi (Dobermann et al. 2003). Pengelolaan hara spesifik lokasi berupaya menyediakan hara bagi tanaman secara tepat, baik jumlah, jenis, maupun waktu pemberiannya, dengan mempertimbangkan kebutuhan tanaman, dan kapasitas lahan dalam menyediakan hara bagi tanaman (Makarim et al. 2003)
            Terung (Solanum melongena L.) merupakan salah satu jenis sayuran penting di daerah tropis dan subtropis. Salah satu kendala dalam pengembangan terung adalah serangan penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum, jamur Fusarium oxysporum dan F. melongena, serta nematoda Meloidogyne sp. Serangan penyakit layu bakteri di Jawa, Sumatera, Bali, Lombok, dan Sulawesi menyebabkan kehilangan hasil 15-95%.
            Sumber ketahanan terhadap penyakit layu pada terung terdapat pada kerabat liarnya, seperti Solanum sanitwongsai, S. torvum (takokak), S. sysimbrifolium, dan S. aethiopicum (Mariska et al. 2002). Persilangan seksual antara terung budi daya dan kerabat liarnya sering mengalami kegagalan karena adanya ketidaksesuaian (incompatibility) atau F1 yang dihasilkan sering steril. Untuk mengatasi masalah tersebut dapat digunakan fusi protoplas antara S. melongena dan S. torvum atau S. aethiopicum dilanjutkan dengan kultur anther dan hibridisasi silang balik. Protoplas diisolasi dari daun secara in vitro dengan menggunakan enzim selulase dan pektinase.
            Sumber ketahanan terhadap penyakit layu pada terung terdapat pada kerabat liarnya, seperti Solanum sanitwongsai, S. torvum (takokak), S. sysimbrifolium, dan S. aethiopicum (Mariska et al. 2002). Persilangan seksual antara terung budi daya dan kerabat liarnya sering mengalami kegagalan karena adanya ketidaksesuaian (incompatibility) atau F1 yang dihasilkan sering steril. Untuk mengatasi masalah tersebut dapat digunakan fusi protoplas antara S. melongena dan S. torvum atau S. aethiopicum dilanjutkan dengan kultur anther dan hibridisasi silang balik. Protoplas diisolasi dari daun secara in vitro dengan menggunakan enzim selulase dan pektinase.
            Peningkatan keragaman genetikmelelui variasi somaklonal menggunakan protlopas telah berhasil dilakukan pada eberapa tanaman, seperti variasu pertumbuhan dan pembentukan ubi pada umbi jalar(sihachak et al. 1994), variasi sifat ketahanan terhadap penyakit Phytoptora infestandan alternaria sollani pada tanaman kentang(takabe et al. 1997), serta variasi multyploidi(data et al. 1992), dan ketahana terhadap herbisida (Evans dan Sharp, 1986).
            Klorofil merupakan zat hijau daun yangterdapat pada semua tumbuhan hijau yang berfotosintesis. Berdasarkan penelitian, klorofil ternyata tidak hanya berperan sebagai pigmen fotosintesis. Klorofil mempunyai manfaat antara lain, sebagai obat kanker otak, paru-paru, dan mulut . Klorofil juga dapat digunakan sebagai desinfektan, antibiotik dan food suplemen. Klorofil dapat digunakan sebagai food suplemen karena mengandung nutrisi yang dibutuhkan untuk tubuh manusia.
            Adanya manfaat klorofil yang banyak tersebut, maka diperlukan suatu usaha untuk meningkatkan kandungan klorofil pada tanaman. Usaha peningkatan kandungan klorofil tersebut salah satunya bisa dilakukan dengan volume penyiraman yang sesuai dengan jenis tanaman yang ditanam. Oleh karena itu perlu diketahui volume penyiraman yang tepat pada suatu tanaman agar pertumbuhan dan kandungan klorofilnya maksimal.
            Kebanyakan tanaman mempunyai pertumbuhan yang bagus pada kondisi kapasitas layang. Kapasitas lapang adalah keadaan dimana air hanya berada dalam pori-pori mikro tanah dan disebut sebagai air tersedia, sedang pori-pori makro tanah ditempati oleh udara.(ika susanti, 2009)


IV.  PEMBAHASAN

            Unsur hara mikro yaitu unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang relatif sedikit namun mutlak diperlukan. Unsur hara mikro bisa diperoleh melalui penaburan pupuk kandang atau pupuk organik yang lain, bisa juga dilakukan melalui penyemprotan dengan pupuk mikro dosis tinggi misal Multimikro, metalik atau yang lainnya.
Berikut macam-macam pupuk mikro:
1.      Ferrit/besi (Fe): besi (Fe) berfungsi untuk pembentukan klorofil. Tanda kekurangan Fe yaitu daun menguning dan ahirnya mati dari pucuk.
2.      Mangan (Mn): Untuk penyusunan klorofil, perkecambahan, dan pemasakan buah. Ciri kekurangan Mn biji yang terbentuk akan sangat jelek, daun menguning dan beberapa jaringan akan mati.
3.      Tembaga/Cupprum (Cu): Kehadiran tembaga pada tanama belum banyak diketahui, namun tembaga berfungsi untuk pembentukan klorofil, ciri kekurangan  tembaga daun tidak merata dan daun sering layu, malah terkadang klorosis.
4.      Seng/zink (Zn): Memberi dorongan terhadap pertumbuhan tanaman karena diduga Zn dapat berfungsi untuk membebtuk hormon tumbuh. Kekuranan unsur ini ditandai dengan daun berwarna aneh-aneh misal kekuning-kuningan atau pada daun yang sudah tua berwarna kemerahan .   Kalau diperhatikan dengan seksama cabang dan batangpun ikut terkena bencana yang mengakibatkan terdapatnya lubang kecil-kecil.
5.      Boron (B): Unsur ini berfungsi menangkut karbohidrat kedalam tubuh tanaman dan menghisap unsur kalsium. Selain itu boron berfungsi dalam perkembangan bagian-bagian tanaman untuk tumbuh aktif. Pada tanaman penghasil  biji unsur ini berpengaruh terhadap pembagian sel. Dan yang paling nyata ialah perannya terhadap munaikkan mutu tanaman sayuran dan tanaman buah.Bila kekurangan unsur boron paling nyata tampak pada tepi-tepi daun yaitu gejala klorosis, mulai dari bagian bawah daun.  daun yang baru muncul terlihat kecil dan tanaman agak kerdil cabang tumbuh sejajar. kuncup-kuncup mati dan berwarna hitam.  Kekurangan unsur ini menimbulkan penyakit fisiologis , khususnya pada atanaman sayur dan buah, pada tanaman semangka biasanya ditandai dengan pertumbuhan batang muda yang tegak berdiri, ruas pendek, daun mengecil, dan bila terkena angin batang muda tersebut mudah patah dan mengeluarkan cairan berwarna kecoklatan, pada tanaman sayur  dan buah kekurangan unsur bini agak sulit dibedakan dengan tanaman yang terkena serangan virus. Dan pada tanaman jagung kekurangan unsur ini bisa mengakibaatkan tongkol tanpa biji sama sekali ( mirip jagung yang tidak terbuahi)
            Zn diserap oleh tanaman dalam bentuk ion Zn++ dan dalam tanah alkalis mungkin diserap dalam bentuk monovalen Zn(OH)+. Di samping itu, Zn diserap dalm bentuk kompleks khelat, misalnya Zn-EDTA. Seperti unsure mikro lain, Zn dapat diserap lewat daun. Kadr Zn dalam tanah berkisar antara 16-300 ppm, sedangkan kadar Zn dalam tanaman berkisar antara 20-70 ppm. Mineral Zn yang ada dalam tanah antara lain sulfida (ZnS), spalerit [(ZnFe)S], smithzonte (ZnCO3), zinkit (ZnO), wellemit (ZnSiO3 dan ZnSiO4). Fungsi Zn antara lain : pengaktif enim anolase, aldolase, asam oksalat dekarboksilase, lesitimase,sistein desulfihidrase, histidin deaminase, super okside demutase (SOD), dehidrogenase, karbon anhidrase, proteinase dan peptidase. Juga berperan dalam biosintesis auxin, pemanjangan sel dan ruas batang.
            Ketersediaan Zn menurun dengan naiknya pH, pengapuran yang berlebihan sering menyebabkan ketersediaaan Zn menurun. Tanah yang mempunyai pH tinggi sering menunjukkan adanya gejala defisiensi Zn, terytama pada tanah berkapur.
Adapun gejala defisiensi Zn antara lain : tanaman kerdil, ruas-ruas batang memendek, daun mengecil dan mengumpul (resetting) dan klorosis pada daun-daun muda dan intermedier serta adanya nekrosis.
            Suplai unsur hara dari ahan mineral untuktanaman secra alami cukup bagi pertumbuhan tanaman secara normal, kecuali pada tanah masam seperti pada Oxisol. Tanah ini memiliki sifat kesuburan tanah rendah terutama tngginya kelarutan unsur0unsur mikro yang dapat menekan pertumbuhan tanaman. Dapat terjadi peningkatan kadar unsure dalam tanah akibat penamhan dari luar melalui udara dan air (polusi) atau air dari limbah. Peningkatan ini dapat melebihi ambang batas bagi kehidupan bilologi di dalam tanah maupaun dipermukaan tanah khususnya unsure logam seperti Zn, Cu, Pb, dan Cd. Kadar air yang berleihan dari kekmpat unsure tersebut baik secara sendiri maupun bersama-sama dapat meracun tanaman tingkat tinggi. Bahkan dapat meracunu bakteri-bakteri yang bermanfaat dalam tanah, sepertiu bakteri rizobium yang terdapat pada akar tanaman leguminosa. (sit, 1994) melaporkan bahwa mikroorganisme perombak secara anaaerobik dapat mengalami keracunan akibat keleihan beragai unsure termasuk unsure Zn, Cu, Pb, dan Cd, serta terjadi pada kadar 10-100 mg Zn, 50-100 mg Zu, 10-30mg P, dan 70 mg cd/liter. Bakteri ini berperan dalam merombak ahan organic pada kondisi tanpa undara Oksigen. Keracunan akibat unsure logam dapat terjadi pada hewan dan manusia.
            Meningkatkan ketersediaan air bagi tanaman. Bahan organik dapat meningkatkan kemampuan tanah menahan air karena bahan organik, terutama yang telah menjadi humus dengan ratio C/N 20 dan kadar C 57% dapat menyerap air 2-4 kali lipat dari bobotnya. Karena kandungan air tersebut, maka bahan organik terutama yang sudah menjadi humus dapat menjadi penyangga bagi ketersediaan air.
• Membentuk kompleks dengan unsur mikro sehingga melindungi unsur-unsur tersebut dari pencucian. Unsur N,P,S diikat dalam bentuk organik atau dalam tubuh mikroorganisme, sehingga terhindar dari pencucian, kemudian tersedia kembali.
• Meningkatkan kapasitas tukar kation tanah Peningkatan KTK menambah kemampuan tanah untuk menahan unsur- unsur hara.
• Memperbaiki struktur tanah Tanah yang mengandung bahan organik berstruktur gembur, dan apabila dicampurkan dengan bahan mineral akan memberikan struktur remah dan mudah untuk dilakukan pengolahan. Struktur tanah yang demikian merupakan sifat fisik tanah yang baik untuk media pertumbuhan tanaman. Tanah yang bertekstur liat, pasir, atau gumpal akan memberikan sifat fisik yang lebih baik bila tercampur dengan bahan organik.
• Mengurangi erosi
• Memperbaiki agregasi tanah. Bahan organik merupakan pembentuk granulasi dalam tanah dan sangat penting dalam pembentukan agregat tanah yang stabil. Bahan organik adalah bahan pemantap agregat tanah yang tiada taranya. Melalui penambahan bahan organik, tanah yang tadinya berat menjadi berstruktur remah yang relatif lebih ringan. Pergerakan air secara vertikal atau infiltrasi dapat diperbaiki dan tanah dapat menyerap air lebih cepat sehingga aliran permukaan dan erosi diperkecil. Demikian pula dengan aerasi tanah yang menjadi lebih baik karena ruang pori tanah (porositas) bertambah akibat terbentuknya agregat.
• Menstabilkan temperatur. Bahan organik dapat menyerap panas tinggi dan dapat juga menjadi isolator panas karena mempunyai daya hantar panas yang rendah, sehingga temperatur optimum yang dibutuhkan oleh tumbuhan untuk pertumbuhannya dapat terpenuhi dengan baik.
• Meningkatkan efisiensi pemupukan
            Pada hasil pengamatan panjang daun, lebar daun, kandungan klorofil enhga perlakuan +Zn, control, dan –Zn dengan hasil pengamatan yang jelas bahwa hasil yang didapatkan  hasil yang aik serta mendapatkan hasil yang cukup relevan karena dengan angka-anka yang menunjukkan selisih-selisih yang tida terlalujauh.


V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Keaimpulan
1. Pada tanaman terong perlakuan control memiliki pertumbuhan yang cukup
    baik, di lihat dari jumlah daun, daun yang menguning, serta tinggi tanaman.
2. Untuk perlakuan +Zn tanaman terong etrdapat hasil yang menunjukkan
    bahwa untuk setiap perlakuan membutuhkan perawatan yang baik, sehingga
    didapatkan hasil yang baik pula perlakuan
3. Hari hari ahri-kehari pertumuhan pada tanaman terong memiliki peredaan jumlah daun, jumlah daun menguning, serta tinggi tanaman dan  kandungan klorofil, panjang daunserta lebar daun yang menunjuknkan angka-angka tertentu, ini menunjukkan bahwa dengan perlakuan +zn, -Zn, serta control berpengaruh terhadap pertumbuhan suatu tanaman

5.2 Saran.
            Agar praktikan memperoleh ilmu dari penjelasan asistan, maka alangkah baiknya apabila terjalin kerja sama praktikan dan asistan, sehingga praktikan mampu menaplikasikan acara praktikum kali ini kedepan.
DAFTAR PUSTAKA.
Dobermann et al. 2003. Pemupukan Berimbang Untuk Tanaman Terung. Universitas
          Gajah Mada Press,Yogyakarta.

Eka susanti, 2009. Kandunagn Klorofil dan Pertumbuhan Kacang Panjang (vigna sinensis) Pada Tingakat Penyediaan Air Yang berbeda. Laboratorium Biologi Struktur dan Fungsi Tumbuhan Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Diponegoro.  Jl. Prof. Soedarto, SH Tembalang-Semarang 50275

Golddan Alic,1993. Funsi lignin pada tumbuhan yang difungsikan untuk penambah zat pada tuumuhan yang terbentuk dari susunan  selulosa. Prosiding Kongres HITI III Nasional Malang.  

Mariska, I., R. Purnamaningsih, Hobir, K. Mulya, A. Husni, S. Rahayu, M. Kosmiatin, and D. Sihachakr. 2002. Improvement of bacterial

Sixt, H. 1994. The application of recycling technology of palm oil mill factory. Prosiding seminar sehari Pemanfaatan LImbah PAdat/CAir Menjadi Energi dengan Teknologi Daur ulang. Jakarta, 7 februari.

Sanchez C. 2009. Lignocellulosic residues: Bodegradation and bioconversion by fungi. Biotecnology Advnces 27, 185-194.

Trubus, 2002. Mengenal sumber pangan Nabati dan Plasma Nutahnya.Puslitbang Bioteknologi-LIPI. Bogor

No comments:

Post a Comment