Thursday, May 31, 2012

TEKNOLOGI PRODUKSI BUDIDAYA JAGUNG


BAB 1. PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
(Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting, selain gandum  dan padi. Berasal dari Amerika yang tersebar ke Asia dan Afrika melalui kegiatan bisnis orang-orang Eropa ke Amerika. Sekitar abad ke-16 orang Portugal menyebarluaskannya ke Asia termasuk Indonesia. Orang Belanda menamakannya mais dan orang Inggris menamakannya corn.  Penduduk  beberapa daerah di Indonesia (misalnya di Madura  dan Nusa Tenggara) juga menggunakan jagung sebagai bahan makanan pokok. Budidaya jagung telah dilakukan di daerah ini 10.000 tahun yang lalu, kemudian teknologi ini dibawa ke Amerika Selatan (Ekuador) sekitar 7000 tahun yang lalu, dan mencapai daerah pegunungan di selatan Peru pada 4000 tahun yang lalu. Kajian filogenetik  menunjukkan bahwa jagung (Zea mays ssp. mays) merupakan keturunan langsung dari teosinte  (Zea mays ssp.  parviglumis). Dalam proses domestikasinya , yang berlangsung paling tidak 7000 tahun oleh penduduk asli setempat, masuk gen-gen dari subspesies lain, terutama Zea mays ssp. mexicana. Istilah teosinte sebenarnya digunakan untuk menggambarkan semua spesies dalam genus Zea, kecuali Zea mays ssp. mays. Proses domestikasi menjadikan jagung merupakan satu-satunya spesietumbuhan yang tidak dapat hidup secaraliar di alam.   Hingga kini dikenal 50.000 varietas jagung, baik ras lokal maupun kultivar.
Jagung merupakan tanaman serealia yang paling produktif di dunia, sesuai ditanam di wilayah bersuhu tinggi, dan pematangan tongkol ditentukan oleh akumulasi panas yang diperoleh tanaman. Luas pertanaman jagung di seluruh dunia lebih dari 100 juta ha, menyebar di 70 negara, termasuk 53 negara berkembang. Penyebaran tanaman jagung sangat luas karena mampu beradaptasi dengan baik pada berbagai lingkungan. Jagung tumbuh baik di wilayah tropis hingga 50° LU dan 50° LS, dari dataran rendah sampai ketinggian 3.000 m di atas permukaan laut (dpl), dengan curah hujan tinggi, sedang, hingga rendah sekitar 500 mm per tahun. Pusat produksi jagung di dunia tersebar di negara tropis dan subtropis. Tanaman jagung tumbuh optimal pada tanah yang gembur, drainase baik, dengan kelembaban tanah cukup, dan akan layu bila kelembaban tanah kurang dari 40% kapasitas lapang, atau bila batangnya terendam air. Pada dataran rendah, umur jagung berkisar antara 3-4 bulan, tetapi di dataran tinggi di atas 1000 m dpl berumur 4-5 bulan. Umur panen jagung sangat dipengaruhi oleh suhu, setiap kenaikan tinggi tempat 50 m daripermukaan laut, umur panen jagung akan mundur satu hari.
Banyak pendapat dan teori mengenai asal tanaman jagung, tetapi secara umum para ahli sependapat bahwa jagung berasal dari Amerika Tengah atau Amerika Selatan. Jagung secara historis terkait erat dengan suku Indian, yang telah menjadikan jagung sebagai bahan makanan sejak 10.000 tahun yang lalu. Menurut ahli biologi evolusi, jagung yang ada sekarang telah mengalami evolusi dari tanaman serealia primitif, yang bijinya terbuka dan jumlahnya sedikit, menjadi tanaman yang produktif, biji banyak pada tongkol tertutup, mempunyai nilai jual yang tinggi, dan banyak ditanam sebagai bahan pangan. Nenek moyang tanaman jagung masih menjadi kontroversi, ada tiga teori yang mengatakan tanaman jagung berasal dari pod corn, kerabat liar jagung tripsacum dan teosinte.

1.2  Tujuan
1.        Mahasiswa dapat memahami dan menerapkan prinsip teknik produksi jagung.
2.        Melatih ketrampilan mahasiswa dalam menganalisa komponen teknologi produksi jagung.


BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA


Tanaman jagung tumbuh optimal pada tanah yang gembur, drainase baik, dengan kelembaban tanah cukup, dan akan layu bila kelembaban tanah kurang dari 40% kapasitas lapang, atau bila batangnya terendam air. Pada dataran rendah, umur jagung berkisar antara 3-4 bulan, tetapi di dataran tinggi di atas 1000 m dpl berumur 4-5 bulan. Umur panen jagung sangat dipengaruhi oleh suhu, setiap kenaikan tinggi tempat 50 m dari permukaan laut, umur panen jagung akan mundur satu hari. Areal dan agroekologi pertanaman jagung sangat bervariasi, dari dataran rendah sampai dataran tinggi, pada berbagai jenis tanah, berbagai tipe iklim dan bermacam pola tanam. Tanaman jagung dapat ditanam pada lahan kering beriklim basah dan beriklim kering, sawah irigasi dan sawah tadah hujan, toleran terhadap kompetisi pada pola tanam tumpang sari, sesuai untuk pertanian subsistem, pertanian komersial skala kecil, menengah, hingga skala sangat besar. Suhu optimum untuk pertumbuhan tanaman jagung rata-rata 26-300C dan pH tanah 5,7-6,8 (Purwono, 2005).
Jagung disebut juga tanaman berumah satu (monoeciuos) karena bunga jantan dan betinanya terdapat dalam satu tanaman. Bunga betina, tongkol, muncul dari axillary apices tajuk. Bunga jantan (tassel) berkembang dari titik tumbuh apikal di ujung tanaman. Pada tahap awal, kedua bunga memiliki primordia bunga biseksual. Selama proses perkembangan, primordial stamen pada axillary bunga tidak berkembang dan menjadi bunga betina. Demikian pula halnya primordia ginaecium pada apikal bunga, tidak berkembang dan menjadi bunga jantan. Serbuk sari (pollen) adalah trinukleat. Pollen memiliki sel vegetatif, dua gamet jantan dan mengandung butiran-butiran pati. Dinding tebalnya terbentuk dari dua lapisan, exine dan intin, dan cukup keras. Karena adanya perbedaan perkembangan bunga pada spikelet jantan yang terletak di atas dan bawah dan ketidaksinkronan matangnya spike, maka pollen pecah secara kontinu dari tiap tassel dalam tempo seminggu atau lebih (Subekti, 2007).
Produksi jagung berbeda antar daerah, terutama disebabkan oleh perbedaan kesuburan tanah, ketersediaan air, dan varietas yang ditanam. Variasi lingkungan tumbuh akan mengakibatkan adanya interaksi genotipe dengan lingkungan yang berarti agroekologi spesifik memerlukan varietas yang spesifik untuk dapat memperoleh produktivitas optimal. Jenis jagung dapat diklasifikasikan berdasarkan: sifat biji dan endosperm, warna biji, lingkungan tempat tumbuh, umur panen, dan kegunaan. Jenis jagung berdasarkan lingkungan tempat tumbuh meliputi: dataran rendah tropik (<1.000 m dpl), dataran rendah subtropik dan mid-altitude (1.000-1.600 m dpl), dan dataran tinggi tropik (>1.600 mdpl). Jenis jagung berdasarkan umur panen dikelompokkan menjadi dua yaitu jagung umur genjah dan umur dalam. Jagung umur genjah adalah jagung yang dipanen pada umur kurang dari 90 hari, jagung umur dalam dipanen pada umur lebih dari 90 hari. Sejalan dengan perkembangan pemuliaan tanaman jagung, jenis jagung dapat dibedakan berdasarkan komposisi genetiknya, yaitu jagung hibridadan jagung bersari bebas. Jagung hibrida mempunyai komposisi genetic yang heterosigot homogenus, sedangkan jagung bersari bebas memiliki komposisi genetik heterosigot heterogenus. Kelompok genotipe dengan karakteristik yang spesifik (distinct), seragam (uniform), dan stabil disebut sebagai varietas atau kultivar, yaitu kelompok genotipe dengan sifat-sifat tertentu yang dirakit oleh pemulia jagung. Diperkirakan di seluruh dunia terdapat lebih dari 50.000 varietas jagung (Warismo, 2000).
Varietas unggul merupakan salah satu teknologi inovatif yang handal untuk mening-katkan produktivitas tanaman jagung, baik melalui peningkatan potensi daya hasil tana-man, maupun melalui peningkatan toleransi dan ketahanannya terhadap berbagai ceka-man lingkungan biotik dan abiotik. Selain itu, pembentukan varietas unggul juga bertujuan untuk meningkatkan mutu dan nilai tambah produk dan upaya meningkatkan nilai eko-nomi. Penerapan paket teknologi budidaya jagung mengutamakan pemanfaatan sumber-daya lokal, penerapan teknologi budidaya ber-dasarkan karakteristik lahan, dan mempertim bangkan kearifan lokal petani (Syafri, 2010).
Dalam produksi tanaman, untuk memperoleh hasil yang maksimum, ketersediaan unsur hara merupakan syarat mutlak. Salah satu unsur hara penting yang ketersediaannya harus dalam keadaan cukup adalah nitrogen. Pada kondisi lahan tertentu dengan tingkat kesuburan rendah seperti pada Ultisol, pemupukan nitrogen dan unsur-unsur utama lainnya seperti fosfor dan kalium, seringkali mutlak dilakukan untuk memenuhi kebutuhan tanaman. Salah satu aspek penting dari pemupukan yang jarang sekali diperhatikan adalah efisiensi pemupukan. Pemupukan nitrogen khususnya di daerah tropis dengan suhu dan kelembaban tinggi serta iklim basah seperti Indonesia umumnya memiliki efisiensi yang rendah. Pada kondisi ini, tanah banyak mengalami kehilangan nitrogen yang terjadi melalui pencucian, panen, proses denitrifikasi, reaksi- reaksi kimia dan lain-lain. Pada batasan tertentu, masalah efisiensi pemupukan dapat dikendalikan melalui manipulasi teknologi pemupukan yang meliputi cara penggunaan, waktu pemberian, takaran yang tepat serta jenis pupuk yang digunakan (Nyimas, 2004).
Permintaan terhadap jagung manis terus meningkat namun permintaan ini belum dapat dipenuhi, karena pengembangan budidaya jagung manis di tingkat petani yang masih belum berkembang dengan baik. Berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi tanaman jagung manis di antaranya dengan melaksanakan program intensifikasi dan perluasan areal pertanaman. Program intensifikasi dapat dilakukan di antaranya dengan penambahan unsur hara melalui pemupukan dengan tujuan meningkatkan hasil tanaman. Sedangkan perluasan areal penanaman jagung manis dapat dilakukan dengan memanfaatkan lahan yang ada (Irianto, 2007).
Hasil tanaman produksi jagung yang dicapai di setiap sentra pengembangan sangat bervariasi antara 4,5-6,5 t/ha. Angka tersebut masih lebih rendah di-banding hasil yang dicapai dari kegiatan pene-litian yang dapat mencapai 8,5 t/ha. Salah satu faktor penyebabnya ada-lah penerapan teknologi belum optimal di tingkat petani. Kendala utama yang dihadapi petani dalam penerapan teknologi adalah ting-ginya harga pupuk terutama pupuk N, P, dan K. Harga pupuk buatan terus mengalami ke-naikan, sementara harga dasar jagung cende-rung stabil malah menurun terutama pada saat panen raya. Untuk mengantisipasi kenaikan pupuk buatan tersebut, maka salah satu altrnatif ada-lah mencari jenis pupuk yang harganya lebih murah dan lebih efektif dalam peningkatan produksi jagung antara lain pupuk organik dan pupuk alternative lainnya, diantaranya adalah pupuk organik Saputra Nutrient. Se-mua pupuk organik dan pupuk alternative yang akan beredar di tingkat petani perlu di-kaji pengaruh positif dan negatifnya terhadap pertumbuhan tanaman, termasuk pengaruh-nya terhadap peningkatan produksi tanaman serta serangan hama dan penyakit (Abdul 2010).
Dalam pertanian yang intensif, perhatian akan lingkungan sangat penting dalam kaitannya untuk mengoptimalkan pengaturan sumber air. Perlunya pemahaman bagaimana kaitannya antara cadangan sumber air dengan proses evapotranspirasi pada suatu tanaman sangatlah penting dalam hal pertanian.  Pemanfaatan ilmu geolistrik dengan metode resistivitas mencoba untuk menggambarkan bagaimana keadaan bawah permukaan dari suatu tanaman. Hal ini tidak hanya penting dalam penghitungan suplai air tetapi juga menggambarkan perubahan dalam penyebaran ruangan di dalam tanah yang berkaitan dengan pertumbuhan tanaman.Dalam penelitian ini metode tahanan listrik digunakan secara tidak langsung dalam penentuan berkurangnya air karena peresapan dan proses evapotranspirasi. Tanaman jagung dipilih dalam penelitian ini karena memiliki waktu perkembangan yang relatif singkat (± 3 bulan) dari masa tanam hingga masa panen. Di samping itu juga memiliki akar yang menyamping kemudian menurun ke kedalaman tanah, dengan kedalaman sekitar 1,20 meter. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk menganalisis secara kuantitatif dan kualitatif hasil penggambaran pseudosection di bawah permukaan tanaman jagung berkaitan dengan proses evapotranspirasi dengan menggunakan program RES2DINV (Teguh, 2006).
Varietas unggul yang dihasilkan dari kegiatan perbaikan populasi akan berdampak pada peningkatan produksi dan nilai tambah usahatani jagung, karena daerah produksi jagung di Indonesia sangat beragam sifat agroklimatnya, yang masing-masing membutuhkan varietas yang sesuai. Varietas yang toleran terhadap cekaman lingkungan (penyakit, hama dan kekeringan) merupakan komponen penting dalam stabilitas hasil jagung (Purwono, 2002).


BAB 3. METODOLOGI


3.1 Waktu dan Tempat
Acara praktikum “Teknologi Produksi Tanaman Jagung” dilaksanakan pada tanggal 2 April 2012 pukul 07.00 di Agrotecnopark, Fakultas Pertanian Universitas Jember.

3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
1.      Gembor
2.      Timba
3.      Cangkul
4.      Timbangan
5.      Meteran

3.2.2 Bahan
1.      Benih tanaman jagung varietas unggul (hibrida) dan non-hibrida.
2.      Pupuk kandang atau pupuk kompos
3.      Pupuk urea, SP-36, KCl
4.      Pestisida

3.3 Cara Kerja
1.      Peserta praktikum sebanyak 2 golongan A dan B yang terbagi dalam kelompok A1, A2, B1 dan B2.
2.      Pelaksanaan teknologi budidaya jagung meliputi:
a)      Persiapan lahan dengan pembersihan tanah dari sisa-sisa tanaman dan gulma, kemudian tanah diolah secara intensif dengan menbajak atau mencangkul sedalam 15-20cm sebanyak 2kali, diratakan dan dibuat saluran drainase.
b)      Penanaman dilaksanakan dengan cara:
1)            Kelompok A1 dan A2 masing-masing menanam jagung bersari bebas atau hibrida jarak tanam 75 x 20cm dengan satu benih dan dua benih perlubang.
2)            Kelompok B1 dan B2 masing-masing menanam jagung bersari bebas atau hibrida jarak tanam 75 x 40cm dengan satu benih dan dua benih perlubang.
Penanaman dengan titugal selama 5cm dan benih dimasukkan kedalam lubang tanaman.
c)      Pemeliharaan tanaman meliputi penyulaman, pemupukan, pengairan, penyiangan, pembumbunan dan pengen dalian hama dan penyakit.
d)      Penjaranagn dilakuakan setelah 1minggu setelah tanam, disisakan sesuai dengan perlakuan.
e)      Pemupukan menggunakan urea, SP 36 dan KCL dengan dosis masing-masing 250-300 kg/ha, 75-100 kg/ha dan 50-100 kg/ha. Seluruh bagian SP 36 dan KCL serta sepertiga bagian urea diberikan saat tanam, sepertiga lagi urea diberikan umur tanaman 4 minggu dan sisa urea sepertiga bagian diberikan umur 6 minggu.
f)        Setelah benih ditanam, dilakukan pengairan dengan penyiraman secukupnya, kemudian menjelang tanaman berbunga diperlukan air yang lebih banyak.
g)      Penyiangan dilakuakan setelah tanaman berusia 15 hari setelah tanam dan dilakukan setiap 2minggu sekali. Penyiangan pada tanaman jagung yang masih muda dapat dilakuakan dengan menggunakan tangan atau bantuan alat (koret).
h)      Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan pertaman untuk memperkokoh posisi batang tanaman agar tidak mudah rebah dan menutup akar yang bermunculan diatas tanah. Pembumbunan berikutnya dilakukan saat tanaman berusia 6 minggu setelah tanam, bersamaan dengan kegiatan pemupukan.
i)        Pengendaliaan hama dan penyakit dilakukan sesuai dengan hama dan penyakit yang ada. Untuk menghindari penyakit bulai dikendaliakan dengan perlakuan benih (seed treadment) yaitu campuran benih dengan fungisida metalaksil secara merata dengan takaran 2 g metalaksil untuk setiap kg benih.
j)        Penanaman dilakukan pada umur 90-100 hari setelah tanam. Jagung yang sudah dapat di panen mempunyai kenampakan kelobot berwarna kuning, biji sudah cukup keras dan mengkilap, apabila biji ditusuk dengan ibu jari maka biji tersebut tidak berbekas dan mempunyai kadar air sekitar 25%.

3.4 Rancangan Evaluasi
1)      Masing-masing kelompok A1, A2, B1 dan B2 mengamati beberapa parameter pertumbuyhan organ vegetatif dan organ reproduktif tanaman jagung.
2)      Mengamati pertumbuhan organ vegetatif dilakukan mulai umur 14 HST, 28 HST dan 42 HST interval 2 minggu sekali, meliputi:
a)      Jumlah daun
b)      Tinggi tanaman (cm)
3)      Mengamati organ reproduktif dilakukan pada saat panen, meliputi;
1.      Saat berbung (HST)
2.      Bobot tongkol pertanaman (g)
3.      Berat biji pertanaman (g)
4.      Produksi biji per ha (kg)
4)      Membuat grfik dari tiap-tiap parameter pengamatan, bandingkan antar perlakuan dan berikan kesimpulan saudara.


BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1    Hasil
Perlakuan
Benih
HST
Rerata Tinggi Tanaman
Rerata Jumlah Daun
75 x 20
1
7
7,46
3
14
15,7
3
21
25,4
6
28
55,8
6
35
59,4
7
42
97,5
10
49
103,3
10
2
7
6,24
2
14
12,5
4
21
20,8
6
28
35,67
8
35
71,15
9
42
107,9
11
49
159,1
12
75 x 40
1
7
7,67
3
14
11,81
4
21
25
2
28
28,02
8
35
93,41
9
42
119,97
10
49
180,3
12
2
7
6,76
3
14
20,5
4
21
24,30
7
28
51,84
10
35
93,9
11
42
147,2
12
49
193,3
13

Grafik Jarak Tanam 75X 20
Rerata tinggi tanaman
Rerata Jumlah Daun


Grafik Jarak Tanam 75 X 40
Rerata Tinggi Tanaman
Rerata Jumlah Daun
4.2    Pembahasan
Dalam kegiatan praktikum tentang teknologi produksi tanaman pangan dan tanaman perkebunan parameter yang dihunakan adalah rata-rata tinggi tanaman dengan jumlah daun pada tanaman. Interval pengamatan pada kegiatan praktikum ini adalah 49 hari dengan data yang diambil tiap minggunya. Perlakuan yang diberikan yaitu tentang jarak tanam dan penanaman benih dalm satu lubang. Dari kegiatan praktikum yang telah dilaksanakan diketahui bahwa pada jarak tanam 75X20 cm pada penanaman 2 benih tiap lubang memberikan hasil data tinggi tanamandan jumlah daun yang signifikan dibanding dengan penanaman 1 benih pada tiap lubang, hal ini diperkuat dari data yang diperoleh dari kegiatan praktikum. Data tinggi tanaman pada penanaman 2 benih tiap lubang yaitu 159,1 cm dan untuk parameter jumlah daunnya adalah 12 daun, hal ini berbeda dengan tanaman jagung yang ditanam pada 1 benih perlubang yang tinggi dari tanamannya adalah 103,3 cm dengan jumlah daun 10 helai pertanaman. Untuk jarak tanam 75X40 cm pada penanaman 1 benih perlubang menunjukkan bahwa tinggi tanaman lebih baik dibandingkan dengan penanaman 2 benih perlubang, hal ini dapat dilihat dari data pengamatan terakhir yang menunjukkan bahwa rata-rata tinggi tanaman pada penanaman 1 benih perlubang yaitu 180,3 cm dan jumlah daunnya 12 helai, sedangkan untuk penanaman 2 benih per lubang tinggi tanamannya menunjukkan hasil yang kurang signifikan yaitu 147,2 cm dan jumlah daunnya adalah 12 helai. Dari data tersebut juga dapat diketahui perbedaan tinggi tanaman pada tiap-tipa jarak tanam, jarak tanam 75 X 40 menunjukkan hasil yang baik dibandingkan dengan jarak tanam 75 X 20. Perbedaan ini menunjukkan bahwa apabila jarak tanam semakin rapat maka tanaman akan semakin ketat dalam bersaing baik dalam memperoleh unsur hara, intensitas cahaya, kelembapan maupun daya serap air antar tanaman. sehingga dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa, untuk memperoleh produksi tanaman yang baik yaitu dapat dengan memanipulasi lingkungan dengan mengatur kerapatan (jarak tanam) dari tanaman.
Pengaruh jarak tanam terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung dalam suatu pertanaman sering terjadi persaingan antar tanaman maupun antar  tanaman dengan gulma untuk mendapatkan unsur hara, air, cahaya matahari maupun ruang tumbuh. Salah satu upaya yang dapat di lakukan untuk mengatasinya adalah dengan pengaturan jarak tanam. Dengan tingkat kerapatan yang optimum maka akan diperoleh ILD yang optimum dengan pembentukan bahan kering yang maksimum. Jarak tanam yang rapat akan meningkatkan daya saing tanaman terhadap gulma karena tajuk tanaman menghambat pancaran cahaya ke permukaan lahan sehingga pertumbuhan gulma menjadi terhambat, di samping juga laju evaporasi dapat ditekan. Namun pada jarak tanam yang terlalu sempit mungkin tanaman budidaya akan memberikan hasil yang relatif kurang karena adanya kompetisi antar tanaman itu sendiri. Oleh karena itu dibutuhkan jarak tanam yang optimum untuk  memperoleh hasil yang maksimum. Jarak tanam merupakan jarak antar satu individu tanaman dengan individu tanaman lainnya, hal ini dilakukan untuk memperoleh keseragaman tanaman dalam memperoleh cahaya matahari yang cukup merata, demi pertumbuhan tanaman yang tumbuh tidak saling menutupi atau saling menaugi. Apabila kerapatan tanaman semakin tinggi akan mengakibatkan tanaman itu tumbuh dengan batang yang tidak kekar dimana terjadi kompetisi antara tanaman yang satu dengan yang lainnya dalam hal mengambil unsur hara serta faktor-faktor lain. Pengaruh jarak tanam bertujuan untuk memberikan kemungkinan pada tanaman untuk tumbuh dengan baik dalam luasan tertentu sekecil mungkin tanpa mengalam  persaingan antara tanaman budidaya dengan gulma maupun antar tanaman budidaya sendiri.
Untuk meningkatkan produksi dari tanaman jagung terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penanaman jagung adalah waktu tanam, jarak dan populasi, serta cara penanaman.
1. Waktu tanam
Umumnya usaha budi daya jagung di lahan kering maksimum hanya dilakukan dua kali penanaman. Hal ini terutama berkaitan dengan kebutuhan air pada awal pertumbuhan tanaman. Waktu tanam yang umum dilakukan adalah awal musim hujan (labuhan) antara September-November dan awal musim kemarau (marengan) antara Februari-April.
2. Jarak tanam dan populasi tanaman
Penerapan jarak tanam tergantung varietas yang digunakan. Berikut jarak tanam dan populasi tanmaan per hektar dari beberapa varietas jagung yang dapat ditanam di lahan kering.
3. Cara penanaman
Penanaman jagung dilakukan deangan cara penugalan. Kedalaman lubang tanam tergantung kelembapan tanah. Kedalaman lubang tanam pada tanah lembap dalam sedalam 2,5 cm, sedangkan pada tanah cukup kering dapat sedalam 5 cm. Jumlah benih untuk setiap ranam dapat sebanyak 2-3 biji untuk varietas nonhibrida, sedangkan varietas hibrida dapat sebanyak 1 biji (kecuali benih hibrida varietas CPI-1, Pioneer, dan IPB-4 dapat sebanyak 2 biji/lubang tanam).
Peningkatan produksi jagung dapat  dilakukan dengan cara pengaturan tingkat kerapatan tanaman. Kerapatan tanaman akan mempengaruhi penampilan dan produksi tanaman terutama dalam efisiensi penggunaan intensitas cahaya.  Umumnya produksi yang tinggi untuk tiap satuan luas dapat tercapai dengan populasi tanaman yang tinggi, karena tercapainya penggunaan cahaya secara maksimum di awal pertumbuhan, tetapi pada akhirnya akan menurun juga pertumbuhan tanaman, karena terjadi persaingan dalam memperoleh cahaya dan efeknya mengurangi ukuran pada seluruh bagian-bagian tanaman.   Semakin rapat jarak tanam maka semakin tinggi tanaman, karena  jumlah cahaya akan berkurang mengenai tubuh tanaman dan pada akhirnya mempengaruhi luas daun dan bobot kering tanaman.
Dalam usaha budidaya tanaman jagung, terdapat tahapan-tahapan usaha budidaya, antaralain :
A.       Pembibitan
1.    Persyaratan Benih
Benih yang akan digunakan sebaiknya bermutu tinggi, baik mutu genetik, fisik maupun fisiologinya. Berasal dari varietas unggul (daya tumbuh besar, tidak tercampur benih/varietas lain, tidak mengandung kotoran, tidak tercemar hama dan penyakit). Benih yang demikian dapat diperoleh bila menggunakan benih bersertifikat. Pada umumnya benih yang dibutuhkan sangat bergantung pada kesehatan benih, kemurnian benih dan daya tumbuh benih.
Penggunaan benih jagung hibrida biasanya akan menghasilkan produksi yang lebih tinggi. Tetapi harga benihnya yang lebih mahal dan hanya dapat digunakan maksimal 2 kali turunan dan tersedia dalam jumlah terbatas. Beberapa varietas unggul jagung untuk dipilih sebagai benih adalah: Hibrida C 1, Hibrida C 2, Hibrida Pioneer 1, Pioneer 2, IPB 4, CPI-1, Kaliangga, Wiyasa, Arjuna, Baster kuning, Kania Putih, Metro, Harapan, Bima, Permadi, Bogor Composite, Parikesit, Sadewa, Nakula. Selain itu, jenis-jenis unggul yang belum lama dikembangkan adalah: CPI-2, BISI-1, BISI-2, P-3, P-4, P-5, C-3, Semar 1 dan Semar 2 (semuanya jenis Hibrida).
2.    Penyiapan Benih
Benih dapat diperoleh dari penanaman sendiri yang dipilih dari beberapa tanaman jagung yang sehat pertumbuhannya. Dari tanaman terpilih, diambil yang tongkolnya besar, barisan biji lurus dan penuh tertutup rapat oleh klobot, dan tidak terserang oleh hama penyakit. Tongkol dipetik pada saat lewat fase matang fisiologi dengan ciri: biji sudah mengeras dan sebagian besar daun menguning. Tongkol dikupas dan dikeringkan hingga kering betul. Apabila benih akan disimpan dalam jangka lama, setelah dikeringkan tongkol dibungkus dan disimpan dan disimpan di tempat kering. Dari tongkol yang sudah kering, diambil biji bagian tengah sebagai benih. Biji yang terdapat di bagian ujung dan pangkal tidak digunakan sebagai benih. Daya tumbuh benih harus lebih dari 90%, jika kurang dari itu sebaiknya benih diganti. Benih yang dibutuhkan adalah sebanyak 20-30 kg/ha.
3.    Pemindahan Benih
Sebelum benih ditanam, sebaiknya dicampur dulu dengan fungisida seperti Benlate untuk menangkal serangan jamur. Sedangkan bila diduga akan ada serangan lalat bibit dan ulat agrotis, sebaiknya benih dimasukkan ke dalam lubang bersama-sama dengan insektisida butiran dan sistemik seperti Furadan 3 G.
B.       Pengolahan Media Tanam
Pengolahan tanah bertujuan untuk: memperbaiki kondisi tanah, dan memberikan kondisi menguntungkan bagi pertumbuhan akar. Melalui pengolahan tanah, drainase dan aerasi yang kurang baik akan diperbaiki. Tanah diolah pada kondisi lembab tetapi tidak terlalu basah. Tanah yang sudah gembur hanya diolah secara umum.
1.    Persiapan
Dilakukan dengan cara membalik tanah dan memecah bongkah tanah agar diperoleh tanah yang gembur untuk memperbaiki aerasi. Tanah yang akan ditanami (calon tempat barisan tanaman) dicangkul sedalam 15-20 cm, kemudian diratakan. Tanah yang keras memerlukan pengolahan yang lebih banyak. Pertama-tama tanah dicangkul/dibajak lalu dihaluskan dan diratakan.
2.    Pembukaan Lahan
Pengolahan lahan diawali dengan membersihkan lahan dari sisa sisa tanaman sebelumnya. Bila perlu sisa tanaman yang cukup banyak dibakar, abunya dikembalikan ke dalam tanah, kemudian dilanjutkan dengan pencangkulan dan pengolahan tanah dengan bajak.
3.    Pembentukan Bedengan
Setelah tanah diolah, setiap 3 meter dibuat saluran drainase sepanjang barisan tanaman. Lebar saluran 25-30 cm dengan kedalaman 20 cm. Saluran ini dibuat terutama pada tanah yang drainasenya jelek.
4.     Pengapuran
Di daerah dengan pH kurang dari 5, tanah harus dikapur. Jumlah kapur yang diberikan berkisar antara 1-3 ton yang diberikan tiap 2-3 tahun. Pemberian dilakukan dengan cara menyebar kapur secara merata atau pada barisan tanaman, sekitar 1 bulan sebelum tanam. Dapat pula digunakan dosis 300 kg/ha per musim tanam dengan cara disebar pada barisan tanaman.
5.    Pemupukan
Apabila tanah yang akan ditanami tidak menjamin ketersediaan hara yang cukup maka harus dilakukan pemupukan. Dosis pupuk yang dibutuhkan tanaman sangat bergantung pada kesuburan tanah dan diberikan secara bertahap. Anjuran dosis rata-rata adalah: Urea=200-300 kg/ha, TSP=75-100 kg/ha dan KCl=50-100 kg/ha. Adapun cara dan dosis pemupukan untuk setiap hektar:
·        Pemupukan dasar: 1/3 bagian pupuk Urea dan 1 bagian pupuk TSP diberikan saat tanam, 7 cm di parit kiri dan kanan lubang tanam sedalam 5 cm lalu ditutup tanah;
·        Susulan I: 1/3 bagian pupuk Urea ditambah 1/3 bagian pupuk KCl diberikan setelah tanaman berumur 30 hari, 15 cm di parit kiri dan kanan lubang tanam sedalam 10 cm lalu di tutup tanah;
·        Susulan II: 1/3 bagian pupuk Urea diberikan saat tanaman berumur 45 hari.
C.       Teknik Penanaman
1.    Penentuan Pola Tanaman
Pola tanam di daerah tropis seperti di Indonesia, biasanya disusun selama 1 tahun dengan memperhatikan curah hujan (terutama pada daerah/lahan yang sepenuhnya tergantung dari hujan. Beberapa pola tanam yang biasa diterapkan adalah sebagai berikut:
·        Tumpang sari (intercropping), melakukan penanaman lebih dari 1 tanaman (umur sama atau berbeda). Contoh: tumpang sari sama umur seperti jagung dan kedelai; tumpang sari beda umur seperti jagung, ketela pohon, padi gogo.
·        Tumpang gilir (Multiple Cropping), dilakukan secara beruntun sepanjang tahun dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain untuk mendapat keuntungan maksimum. Contoh: jagung muda, padi gogo, kacang tanah, ubi kayu.
·        Tanaman Bersisipan (Relay Cropping): pola tanam dengan cara menyisipkan satu atau beberapa jenis tanaman selain tanaman pokok (dalam waktu tanam yang bersamaan atau waktu yang berbeda). Contoh: jagung disisipkan kacang tanah, waktu jagung menjelang panen disisipkan kacang panjang.
·        Tanaman Campuran (Mixed Cropping): penanaman terdiri atas beberapa tanaman dan tumbuh tanpa diatur jarak tanam maupun larikannya, semua tercampur jadi satu Lahan efisien, tetapi riskan terhadap ancaman hama dan penyakit. Contoh: tanaman campuran seperti jagung, kedelai, ubi kayu.
2.    Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam dibuat dengan alat tugal. Kedalaman lubang perlu di perhatikan agar benih tidak terhambat pertumbuhannya. Kedalaman lubang tanam antara: 3-5 cm, dan tiap lubang hanya diisi 1 butir benih.
Jarak tanam jagung disesuaikan dengan umur panennya, semakin panjang umurnya, tanaman akan semakin tinggi dan memerlukan tempat yang lebih luas. Jagung berumur dalam/panjang dengan waktu panen ³ 100 hari sejak penanaman, jarak tanamnya dibuat 40x100 cm (2 tanaman /lubang). Jagung berumur sedang (panen 80-100 hari), jarak tanamnya 25x75 cm (1 tanaman/lubang).
3.    Cara Penanaman
Pada jarak tanam 75 x 25 cm setiap lubang ditanam satu tanaman. Dapat juga digunakan jarak tanam 75 x 50 cm, setiap lubang ditanam dua tanaman.
Tanaman ini tidak dapat tumbuh dengan baik pada saat air kurang atau saat air berlebihan. Pada waktu musim penghujan atau waktu musim hujan hampir berakhir, benih jagung ini dapat ditanam. Tetapi air hendaknya cukup tersedia selama pertumbuhan tanaman jagung. Pada saat penanaman sebaiknya tanah dalam keadaan lembab dan tidak tergenang. Apabila tanah kering, perlu diairi dahulu, kecuali bila diduga 1-2 hari lagi hujan akan turun. Pembuatan lubang tanaman dan penanaman biasanya memerlukan 4 orang (2 orang membuat lubang, 1 orang memasukkan benih, 1 orang lagi memasukkan pupuk dasar dan menutup lubang). Jumlah benih yang dimasukkan per lubang tergantung yang dikehendaki, bila dikehendaki 2 tanaman per lubang maka benih yang dimasukkan 3 biji per lubang, bila dikehendaki 1 tanaman per lubang, maka benih yang dimasukkan 2 butir benih per lubang.
D.  Pemeliharaan
1.    Penjarangan dan Penyulaman
Dengan penjarangan maka dapat ditentukan jumlah tanaman per lubang sesuai dengan yang dikehendaki. Apabila dalam 1 lubang tumbuh 3 tanaman, sedangkan yang dikehendaki hanya 2 atau 1, maka tanaman tersebut harus dikurangi. Tanaman yang tumbuhnya paling tidak baik, dipotong dengan pisau atau gunting yang tajam tepat di atas permukaan tanah. Pencabutan tanaman secara langsung tidak boleh dilakukan, karena akan melukai akar tanaman lain yang akan dibiarkan tumbuh. Penyulaman bertujuan untuk mengganti benih yang tidak tumbuh/mati. Kegiatan ini dilakukan 7-10 hari sesudah tanam. Jumlah dan jenis benih serta perlakuan dalam penyulaman sama dengan sewaktu penanaman. Penyulaman hendaknya menggunakan benih dari jenis yang sama. Waktu penyulaman paling lambat dua minggu setelah tanam.
2.    Penyiangan
Penyiangan bertujuan untuk membersihkan lahan dari tanaman pengganggu (gulma). Penyiangan dilakukan 2 minggu sekali. Penyiangan pada tanaman jagung yang masih muda biasanya dengan tangan atau cangkul kecil, garpu dan sebagainya. Yang penting dalam penyiangan ini tidak mengganggu perakaran tanaman yang pada umur tersebut masih belum cukup kuat mencengkeram tanah. Hal ini biasanya dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari.
3.    Pembumbunan
Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan dan bertujuan untuk memperkokoh posisi batang, sehingga tanaman tidak mudah rebah. Selain itu juga untuk menutup akar yang bermunculan di atas permukaan tanah karena adanya aerasi. Kegiatan ini dilakukan pada saat tanaman berumur 6 minggu, bersamaan dengan waktu pemupukan. Caranya, tanah di sebelah kanan dan kiri barisan tanaman diuruk dengan cangkul, kemudian ditimbun di barisan tanaman. Dengan cara ini akan terbentuk guludan yang memanjang. Untuk efisiensi tenaga biasanya pembubunan dilakukan bersama dengan penyiangan kedua yaitu setelah tanaman berumur 1 bulan.
4.    Pemupukan
Dosis pemupukan jagung untuk setiap hektarnya adalah pupuk Urea sebanyak 200-300 kg, pupuk TSP/SP 36 sebanyak 75-100 kg, dan pupuk KCl sebanyak 50-100 kg. Pemupukan dapat dilakukan dalam tiga tahap. Pada tahap pertama (pupuk dasar), pupuk diberikan bersamaan dengan waktu tanam. Pada tahap kedua (pupuk susulan I), pupuk diberikan setelah tanaman jagung berumur 3-4 minggu setelah tanam. Pada tahap ketiga (pupuk susulan II), pupuk diberikan setelah tanaman jagung berumur 8 minggu atau setelah malai keluar.
5.    Pengairan dan Penyiraman
Setelah benih ditanam, dilakukan penyiraman secukupnya, kecuali bila tanah telah lembab. Pengairan berikutnya diberikan secukupnya dengan tujuan menjaga agar tanaman tidak layu. Namun menjelang tanaman berbunga, air yang diperlukan lebih besar sehingga perlu dialirkan air pada parit-parit di antara bumbunan tanaman jagung.
6.    Waktu Penyemprotan Pestisida
Penggunaan pestisida hanya diperkenankan setelah terlihat adanya hama yang dapat membahayakan proses produksi jagung. Adapun pestisida yang digunakan yaitu pestisida yang dipakai untuk mengendalikan ulat. Pelaksanaan penyemprotan hendaknya memperlihatkan kelestarian musuh alami dan tingkat populasi hama yang menyerang, sehingga perlakuan ini akan lebih efisien.
E.       Panen
Hasil panen jagung tidak semua berupa jagung tua/matang fisiologis, tergantung dari tujuan panen. Seperti pada tanaman padi, tingkat kemasakan buah jagung juga dapat dibedakan dalam 4 tingkat: masak susu, masak lunak, masak tua dan masak kering/masak mati.
1.    Ciri dan Umur Panen
Ciri jagung yang siap dipanen adalah:
a)      Umur panen adalah 86-96 hari setelah tanam.
b)      Jagung siap dipanen dengan tongkol atau kelobot mulai mengering yang ditandai dengan adanya lapisan hitam pada biji bagian lembaga.
c)      Biji kering, keras, dan mengkilat, apabila ditekan tidak membekas.
Jagung untuk sayur (jagung muda, baby corn) dipanen sebelum bijinya terisi penuh. Saat itu diameter tongkol baru mencapai 1-2 cm. Jagung untuk direbus dan dibakar, dipanen ketika matang susu. Tanda-tandanya kelobot masih berwarna hijau, dan bila biji dipijit tidak terlalu keras serta akan mengeluarkan cairan putih. Jagung untuk makanan pokok (beras jagung), pakan ternak, benih, tepung dan berbagai keperluan lainnya dipanen jika sudah matang fisiologis. Tanda-tandanya: sebagian besar daun dan kelobot telah menguning. Apabila bijinya dilepaskan akan ada warna coklat kehitaman pada tangkainya (tempat menempelnya biji pada tongkol). Bila biji dipijit dengan kuku, tidak meninggalkan bekas.
2.    Cara Panen
Cara panen jagung yang matang fisiologis adalah dengan cara memutar tongkol berikut kelobotnya, atau dapat dilakukan dengan mematahkan tangkai buah jagung. Pada lahan yang luas dan rata sangat cocok bila menggunakan alat mesin pemetikan.
3.    Periode Panen
Pemetikan jagung pada waktu yang kurang tepat, kurang masak dapat menyebabkan penurunan kualitas, butir jagung menjadi keriput bahkan setelah pengeringan akan pecah, terutama bila dipipil dengan alat. Jagung untuk keperluan sayur, dapat dipetik 15 sampai dengan 21 hari setelah tanaman berbunga. Pemetikan jagung untuk dikonsumsi sebagai jagung rebus, tidak harus menunggu sampai biji masak, tetapi dapat dilakukan ± 4 minggu setelah tanaman berbunga atau dapat mengambil waktu panen antara umur panen jagung sayur dan umur panen jagung masak mati.
            Beberapa upaya yang dapat diterapkan untuk meningkatkan produksi jagung diantara lain  Perluasan areal panen merupakan satu faktor potensial dalam mendukung peningkatan produksi jagung. Berkaitan dengan perluasan areal panen ini dapat dilakukan upaya ekstensifikasi,diversifikasi,rehabilitasi,peningkatan intensitas tanaman, dan penambahan periode panen jagung.
a. Ekstensifikasi
Dalam pengertian umum,ekstensifikasi merupakan upaya pengadaan sumber pertumbuhan baru berupa perluasan/penambahan areal panen.Bilaa berhasil menambah areal baru ratusan ribu hektar per tahun maka akan terjadi lonjakan produksi jagung secara nyata di tingkat nasional. Perluasan penanaman jagung disarankan dilakukan di daerah bukaan baru,antara lain htan tanaman industri (HTI),daerah transmigrasi,lahan pasang surut,lahan lebak,dan lahan marjinal lainnya (lahan tidur dan lahan belum produktif lain).Lahan produktif di Indonesia masih sangat luas,tetapi belum dikelola.Pada kondisi ini progran ekstensifikasi masih terbuka lebar untuk dilaksanakan.
b. Diversifikasi
Dalam kaitannya dengan usaha penungkatan produksi,diversifikasi diartikan sebagai kegiatan penganekaragaman komoditas pertanian yang dibudidayakan.Pada program diversifikasi ini peningkatan produksi jagung diupayakan dengan menjadikan jagung sebagai tanaman pokok dalam suatu kegiatan pola tanam.Kegiatan tersbut dikenal dengan istilah diversifiksi horizontal.Jenis diversifikasi lain adalah diversifikaso vertikal yang merupakan kegiatan penganekaragaman prodouk industri yang menggunakan bahan baku jagung .Jelaslah bahwa diversifikasi komoditas jagung dapat meningkatkan produksi melalui penggantian tanaman lain ,tumpang sari,sisipan, atau sebagai tanaman susulan.
c. Rehabilitasi
Salah satu kegiatan rehabilitasi pada pembudidayaan jagung adalah perbaikan potensi varietas unggul dengan pemurnian banih atau penggantian buah hibrida yang sudah berkali-kali ditanam. Selain perbaikan varietas, program rehabilitasi ini pun menyangkut perbaikan segala aspek penanaman, termasuk masalah lahan. Rehabilitasi lahan di antaranya ialah perbaikan kesuburan lahan masam dengan pemberian kapur dan perbaikan drainase di lahan pasang surut.
d. Peningkatan Intensitas Penanaman (IP)
Intensitas pertanaman (IP) diartikan sebagai banyaknya pertanaman dalam satu tahun pola tanam disuatu daerah. Pola tanam padi-jagung-bera berarti mempunyai IP 200. IP ini masih dapat ditingkatkan bila masa bera ditanami. Upaya peningkatan intensitas pertanaman jagung ini ditujukan untuk lahan yang masih mempunyai IP kurang dari 300 atau lahan yang belum diusahakan (lahan tidur). Peningkatan IP jagug ini dapat dilakukan dalam setahun, baik dengan pola tanam monokultur maupun tupang sari. Cara ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan produksi jagug.
e. Penambahan periode panen jagung
Pertumbuhan tanaman jagung, terutama awal fase pertumbuhan sampai pengisian tongkol, sangat tergantung pada ketersediaan air. Untuk dapat berproduksi tinggi, penanamannya biasanya hanya dilakukan pada waktu tanam tertentu saja. Akibatnya, produksi jagung mengalami fluktuasi, yaitu berlebihan pada musim panen dan kekurangan pada musim paceklik sehingga kebituhannya harus dipenuhi dari impor. Salah satu upaya mengurangi ketergantugan impor di musim paceklik adalah melakukan penanaman off season (di luar musim tanam). Penamanam off season ini dapat dilakukan pada bulan dan lahan penanaman tertentu.
Ketika tanaman jagung berada pada lingkungan yang kurang mendukung, maka tanaman tersebut akan mengalami kondisi tercekam/stress. Dimana tingkat stress tergantung dari besar kecilnya kondisi lingkungan yang mempengaruhinya. Semakin tinggi tingkat cekaman maka semakin cepat tanaman tersebut mengalami kematian. Setiap tanaman dapat berbeda-beda responya dalam mengatasi cekaman tersebut. Ada yang menyelesaikan siklus hidupnya lebih cepat sebelum cekaman tersebut dating (Escape), ada yang mensintesis senyawa-senyawa yang mampu menetralkan cekaman (avoidance) dan ada juga yang menstimulir cekaman tersebut dalam tubuhnya sehingga tidak menyebar dan mempengaruhi seluruh bagian dari tanaman (Tolerance). Ketika jagung tersebut dipaksakan ditanam pada lingkungan yang ekstrim hanya tanaman yang unggul yang dapat bertahan,namun produksinya tidak seoptimal ketika ditanam pada kondisi lingkungan yang optimal. Sedangkan tanaman yang kurang unggul akan mengalami kematian. Sebagai contoh tanaman jagung yang ditanam pada lingkungan yang kering, maka tanaman jagung tersebut akan kekurangan asupan air dan nutrisi, sehingga tanaman akan tampak layu, kering dan meranggas. Sedangkan pada tingkat yang lebih tinggi, tanaman tersebut akan mati.
Dalam budidaya tanaman jagung apabila dilakukan pada kondisi lahan yang ekstrim dapat menurunkan hasil dari produksi jagung per satuan luas. Namun hal ini sebenarnya tergantung dari jenis varietas yang digunakan dalam budidaya tanaman jagung. Apabila menggunakan varietas yang unggul, kondisi lahan yang ekstrim tidak akan berpengaruh terhadap produksi dari tanaman jagung, dikarenakan jagung tersebut memiliki vigor dan veabilitas yang baik. Vigor yang baik dapat membuat tanaman berproduksi secara normal pada kondisi yang ekstrem dan menghasilkan produksi diatas normal pada kondisi yang optimum. Dalam mengatasi kondisi yang ekstrim selain menggunakan varietas yang unggul dapat juga dengan memanipulasi lingkungan hidup dari tanaman jagung, memanipulasi dalam hal ini adalah mengatur kerapatan atau populasi tanaman. tindakan pengaturan kerapatan / populasi tidak lain adalah suatu usaha bagaimana memanipulasi lingkungan tumbuh dari tanman yang dibudidayakan, sehingga berguna secara efektif bagi pengusahaan tanaman. tingkat kerapatan dan populasi tanaman beragam tergantung pada jenis tanaman dan pada setiap keadaan lingkungan yang berbeda.
Menurut pendapat saya pemangkasan dalam budidaya jagung yang dilakaukan pada saat tanaman telah muncul tongkol sangat perlu dilakukan, hal ini bertujuan agar tanaman dalam pentransferan unsur hara maupun asupan air yang diserap oleh akar dapat teroptimalisasi pada bagian tongkol jagung, sehingga tongkol jagung dapat menjadi lebih besar dibandingkan dengan tanaman jagung yang tidak dipangkas. Pemangkasan ini dapat juga mengurangi kanopi jagung yang dapat menutupi tanaman jagung lain yang sedang berfotosintesis, sehingga dalam hal ini pemangkasan sangat perlu dilakukan dalam peningkatan produksi jagung. Hasil pangkasan tersebut dapat dijadikan sebagai mulsa dan bahan organik yang sangat menguntungkan bagi tanaman jagung itu sendiri.
  Benih tanaman tiap lubang menurut ketentuan dari pemerintah untuk meningkatkan produksi jagung adalah pada benih lokal dianjurkan pada tiap lubang tanaman diisi 2-3 benih, namun untuk benih hibrida diwajibkan 1 benih pada tiap lubang, hal ini dikarenakan pada benih jagung hibrida daya kecambah benih lebih tinggi dibandingkan dengan benih lokal. Pemberian lebih dari 1 benih pada tiap lubang dapat menyebabkan tanaman bersaing dalam segala hal baik dalam penyerapan unsur, serapan air dan intensitas cahaya matahari, dan hal tersebut dapat menyebabkan produksi dari tanaman jagung menurun dan perakaran dari tanaman jagung lebih pendek dan mudah roboh. Tetapi dari kegiatan pengamatan terakhir dari praktikum yang telah dilaksanakan, pada lubang yang ditanam 2 benih pertumbuhan tanaman jagungnya signifikan dan dapat mengimbangi tanaman yang tiap lubangnya ditanami satu benih jagung, hal ini dapat dikarenakan pada kegiatan praktikum yang telah dilaksanakan pada saat musim penghujan sehingga dalam ketersediaan air tanaman tetap tercukupi meski dalam 1 lubang terdapat 2 benih tanaman dan dapat juga karena benih yang digunakan dalam kegiatan praktikum ini adalah benih dibrida yang memiliki daya tumbuh dan tingkat produksi yang tinggi.


BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan
            Dari kegiatan praktikum yang telah dilaksanakan tentang Teknologi Produksi Budidaya Jagung dapat disimpulkan bahwa:
1.        Ada beberapa hal yang perlu dilakukan dalam penanaman jagung mulai dari     persiapan benih, bibit, pemeliharaan berupa penyulaman, pemupukan, pengairan,  penyiangan, pembubunan, pengendalian hama penyakit hingga panen dan lain-lain agar tanaman jagung dapat tumbuh secara optimal dan menghasilkan produkksi tinggi.
2.        Pengaruh jarak tanam terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung dalam suatu pertanaman sering terjadi persaingan antar tanaman maupun antar  tanaman dengan gulma untuk mendapatkan unsur hara, air, cahaya matahari maupun ruang tumbuh.
3.        Untuk meningkatkan produksi dari tanaman jagung terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penanaman jagung adalah waktu tanam, jarak dan populasi, serta cara penanaman.
4.        Ketika tanaman jagung berada pada lingkungan yang kurang mendukung, maka tanaman tersebut akan mengalami kondisi tercekam/stress.
5.        Benih tanaman tiap lubang menurut ketentuan dari pemerintah untuk meningkatkan produksi jagung adalah pada benih lokal dianjurkan pada tiap lubang tanaman diisi 2-3 benih, namun untuk benih hibrida diwajibkan 1 benih pada tiap lubang, hal ini dikarenakan pada benih jagung hibrida daya kecambah benih lebih tinggi dibandingkan dengan benih lokal.

5.2 Saran
            Dalam kegiatan praktikum yang telah dilaksanakan sebaiknya praktikan lebih memperhatikan penjelasan dari asisten, hal ini bertujuan agar praktikum dapat berjalan lancar dan data yang diperoleh valid. Selain itu dalam kegiatan praktikum yang telah dilaksanakan sebaiknya dalam pengamatan terakhir yaitu pada saat tanaman jagung mengeluarkan tongkol, hal ini tujuannya adalah agar praktikan memahami apakah jarak tanam dan jumlah benih yang ditanam dalam satu lubang berpengaruh terhadap produksi tongkol, besar tongkol dan keseragaman kemasakan dari tongkol tanaman jagung.
DAFTAR PUSTAKA


Abdul, F. 2010. Efektivitas Pupuk Organik Saputra Nutrient Pada Tanaman Jagung. Journal Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (Bptp) Sulawesi Selatan.

Irianto. 2007. The Response Of Sweet Corn (Zea Mays Saccharata Sturt) On The Application Of Town Waste Compost. Jurnal Agronomi Vol. 11 No. 2.

Nyimas, M. 2004. Growth Of Maize (Zea Mays L.) Fertilized With Nitrogen Of Different Rates And Methods Of Placement On Ultisols Land With Minimum Tillage System. Jurnal Agronomi 10(1):9-2.

Purwono, 2002. Bertanam Jagung Unggul. Penebar Swadaya: Bogor

Purwono. 2005. AAK Jagung. Kanisius: Yogyakarta.

Subekti. 2007. Morfologi, Pertumbuhan Dan Perkembangan Tanaman Jagung. Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros.

Syafri, E. 2010. Kajian Paket Teknologi Budidaya Jagung Pada Lahan Kering Di Provinsi Jambi. Journal Prosiding Pekan Serealia Nasional.Vol. 12.

Teguh, S. 2006. Penggambaran Pseudosection Bawah Permukaan Dari Suatu Proses Evapotranspirasi Tanaman Jagung Menggunakan Program Res2dinv. Journal Berkala Fisika Vol.9: No.3, Hal 119-129.

Warismo, 2000. Jagung Hibrida. Kanisius. Yogyakarta.



No comments:

Post a Comment